Karena cinta, aku bertahan.
Perjalanan hidup pernikahan yang dulu pernah hampir berada diambang kehancuran, kini bersemi kembali dengan kasih dan cinta yang kuat. Banyak orang meragukan jika pernikahan seumur jagung akan awet. Apalagi dengan banyak perbedaan pemikiran satu sama lain. (heiii...bukankah perbedaan itulah yang mewarnai kisah dalam rumah tangga) perbedaan sifat dan sikap itu pasti ada. Hanya saja, bisa saling mengerti dan mengisi satu sama lain apa tidak. Dan sahabatku, mampu. Meski badan harus kurus karena stress. Beban pikiran berkecamuk tak karuan. Ia ingat. Ada Allah swt. Semua dia pasrahkan.
Andai kesabaran itu tak mampu dibendung, mungkin amarah akan meluap kemana-mana. habis sudah kesabaran. Dan cinta pasti hilang. Akal ini masih bisa untuk berfikir. Masih mampu untuk mencerna setiap nasihat. Mana yang baik dan mana yang harus diabaikan. Jika saja akal ini sudah terkontaminasi virus kebencian dan sakit hati berkepanjangan. Ditambah keegoisan, tak ada lagi cerita cinta antara mereka. Semua hadir kembali karena cinta dia melibatkan Allah.
Dia tahu, kesalahan. Dia tahu apa yang harus diperbaiki. Dia tahu, bahwa tak mungkin bersikap kekanakan lagi untuk mendapatkan masa depan yang bahagia. Biarlah suami masih belum sesuai harapan yang dulu diimpikan. Karena ini konsekuensi pilihan yang harus diterima. Tak ada akibat jika tak ada sebab. Hukum apa yang kita tanam akan tertunai di masa depan. Hanya ingin merubahnya atau tidak. Berdoa tiada henti. Puasa sunah, shalat tahajud. Rajin shalat lima waktu. Bertahap impian itu datang secara bertahap. Suami kini mulai menunjukkan sikap yang diharapkan.
Dan cinta itu kini kembali. Putri kesayangannya dapat tumbuh bahagia dengan orang tua yang lengkap. kecerian dia kini sudah tak lagi terhambat. Tumbuh dengan sehat dan bahagia. Kepintaran dia, celoteh lucu dari mulut mungilnya. Ahhh... membuat siapa saja menyukainya. Pengajaran agama mereka utamakan. Membuat sikecil tahu kewajiban berhijab. (Semoga kamu istiqomah selalu ya sayang dengan hijabnya. )
Perjalanan hidup pernikahan yang dulu pernah hampir berada diambang kehancuran, kini bersemi kembali dengan kasih dan cinta yang kuat. Banyak orang meragukan jika pernikahan seumur jagung akan awet. Apalagi dengan banyak perbedaan pemikiran satu sama lain. (heiii...bukankah perbedaan itulah yang mewarnai kisah dalam rumah tangga) perbedaan sifat dan sikap itu pasti ada. Hanya saja, bisa saling mengerti dan mengisi satu sama lain apa tidak. Dan sahabatku, mampu. Meski badan harus kurus karena stress. Beban pikiran berkecamuk tak karuan. Ia ingat. Ada Allah swt. Semua dia pasrahkan.
Andai kesabaran itu tak mampu dibendung, mungkin amarah akan meluap kemana-mana. habis sudah kesabaran. Dan cinta pasti hilang. Akal ini masih bisa untuk berfikir. Masih mampu untuk mencerna setiap nasihat. Mana yang baik dan mana yang harus diabaikan. Jika saja akal ini sudah terkontaminasi virus kebencian dan sakit hati berkepanjangan. Ditambah keegoisan, tak ada lagi cerita cinta antara mereka. Semua hadir kembali karena cinta dia melibatkan Allah.
Dia tahu, kesalahan. Dia tahu apa yang harus diperbaiki. Dia tahu, bahwa tak mungkin bersikap kekanakan lagi untuk mendapatkan masa depan yang bahagia. Biarlah suami masih belum sesuai harapan yang dulu diimpikan. Karena ini konsekuensi pilihan yang harus diterima. Tak ada akibat jika tak ada sebab. Hukum apa yang kita tanam akan tertunai di masa depan. Hanya ingin merubahnya atau tidak. Berdoa tiada henti. Puasa sunah, shalat tahajud. Rajin shalat lima waktu. Bertahap impian itu datang secara bertahap. Suami kini mulai menunjukkan sikap yang diharapkan.
Dan cinta itu kini kembali. Putri kesayangannya dapat tumbuh bahagia dengan orang tua yang lengkap. kecerian dia kini sudah tak lagi terhambat. Tumbuh dengan sehat dan bahagia. Kepintaran dia, celoteh lucu dari mulut mungilnya. Ahhh... membuat siapa saja menyukainya. Pengajaran agama mereka utamakan. Membuat sikecil tahu kewajiban berhijab. (Semoga kamu istiqomah selalu ya sayang dengan hijabnya. )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar