Ia saya mau terima kasih. Makasihhh... sekali.
Andai tak ada yang mencaci maki, tak tahu apa itu arti sabar
andai tak ada yang membuat sakit hati, tidak tahu apa arti dari memaafkan
jika tak ada yang mencemooh, tak akan tahu apa itu bersyukur
Bagaimana jika ada orang yang menghina kita. Sabar atau syukur hayooo?
Sebaiknya kita itu bersyukur. Bukan sabar.
"Lho, mbak ini gimana sih? kok malah bersyukur. Sakit hati tahu!"
Iyaa, aku tahu. Tapi, sabar itu cuma sebentar, namun syukur itu kita akan dapat pahala. Hinaan itu mengurangi dosa. Ucapkanlah alhamdulillah jika kita dihina.
Teruskan saja, hingga dia lelah seperti itu. Pahala kita bertambah, sedangkan pahala dia berkurang. Jadi, siapa yang rugi? bukan kita kan?
Bukankah yang menghina kita itu sebenarnya diam-diam memperhatikan kita, bukan? biarlah dia seperti itu. Lama-lama juga bakal lelah.
Bersyukur saja. Kita hidup bukan untuk mengurusi mereka yang suka menghina. Masih banyak hal yang lebih bermanfaat lainnya dari sekedar ocehan tak bermanfaat. Apa sih hinaan mereka? jadikan koreksi diri saja. Siapa tahu memang ada yang salah pada diri kita. Yang penting, kita tidak seperti itu. Jika tak suka pada suatu hal pada seseorang. Misalnya saja teman. Nasihat bukan dicemooh. Nasihatnya pun bukan dikhalayak ramai. Melainkan diam-diam tanpa ada yang tahu. Orang yang cerdas tahu mana saran yang menjatuhkan atau membangun diri yang lebih baik. Nasihat itu hadir, tandanya ada orang yang peduli pada kita. Perhatian. Jika menjatuhkan, dia menasehati di banyak orang, tanpa mikir perasaan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar