Label

Rabu, 23 September 2015

Tuhan Maha Romantis


 Tertawan

Ada yang beku : bibir

Ada ada yang tertahan : nafas

Ada yang tak berkedip : kelopak mata

Ada yang berdesir deras : darah

Ada yang tertawan : hati

Ada yang berhenti berputar : bumi

Ada yang berhembus pelas : angin

Ada yang hening berbisik : rumput

Ada yang jatuh  cinta padamu :


 aku.


Judul Buku : Tuhan Maha Romantis
Penulis : Azhar Nurun Ala
Penyunting: Abdullah Ibnu Ahmad
Penerbit : Lampu Djalan
Tebal Buku : 251
Cetakan ke tiga : 2015


     Cuplikan awal dai bab 5 hal 63. Kisah ini tak pernah membuatku bosan untuk membaca berulang kali. Sebab dari berulangnya membaca aku akan menemukan hal baru lagi. Ada saja yang membuatku harus mengangguk setuju dengan setiap percakapan dalam buku ini. Suka dengan nasihat Ayah Rijal. Kasih sayang seorang Ibu. Dan buku ini mengajarkan sebuah keikhlasan. Meski sulit namun ternyata berbuah manis

     Cinta dalam diam. Mampu memberikan efek energi lebih kuat dibanding cinta yang terlalu sering diungkapkan sebelum halal. Ini sih pemikiranku. Sebab yakin dengan sebuah doa. Jika tak jodoh, tak ada luka yang terlalu dalam. Karena memang belum berani untuk diungkapkan, lebih baik disimpan. Jika sudah waktunya disegerakan.  Kisah cinta antara Laras dan Rijal memang sudah terjalin. Seperti sebuah benang panjang yang tak mereka sadari. Rasa tertarik sudah terjadi diawal pertemuan. Bukan saling mengumbar rasa, tapi menjaga hati. Ihhh kereennn. 

     Cerita ini alurnya Maju-mundur. Ada flashback masa lalu awal pertemuan Laras dan Rijal. Lalu ada sebuah permintaan diawal kisah yang menyambung ke bagian akhir. Sweet deh. Meski patah hati, Laras masih tetap menepati permintaan iseng Rijal untuk mendoakan di bawah pohon kiwi. Doa apa itu? baca bukunya saja :D 

Cinta memang kata kerja, bukan kata benda. Maka ia terus bergerak tak pernah berhenti. Ia ditakdirkan menjadi kata yang begitu berkarakter, penuh daya dobrak tapi masih saja sulit didefinisikan. 
 Sehingga begiti dasyat Anis Matta menggambarkannya dalam Serial Cinta : 

Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan  kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantahkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Hanya terasa. Tapi dahsyat. 

 Allah punya jalan cinta untuk semua orang, yang sering kali diabaikan. Hanya karena melihat jalan itu lebih landai tapi menjerumuskan.
Allah punya jalan cinta bagi mereka yang berpasrah. Percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi manusia. Tak ada jalan yang lebih indah selain dariNya. Mendapatkan berkah dan tak membuat cinta itu membutakan diri. Andai kita tak angkuh untuk menapakinya, bisa jadi cinta itu indah untuk kita rengkuh dengan indahnya. 

Ada hal yang membuat kita hari ini berbeda dengan kita bertahun-tahun yang akan datang: buku yang kit abaca dan orang-orang yang kita temui.
Buku yang kit abaca akan membentuk pola pikir kita, orang orang terdekat kita akan membentuk karakter kita.
Bacalah banyak buku, temui dan tumbuhlah bersama orang-orang hebat___orang-orang yang melakukan perubahan besar dan orang-orang yang kamu kagumi
Pesan Ayah untuk A’ Rijal.

Ya, memang buku dan orang disekitar kita yang akan membentuk pribadi kita. Mau jadi baik dekati orang-orang baik. Mau berwawasan luas, banyak-banyaklah membaca buku, dan yang memberikan manfaat bagi diri kita.

     Permasalah yang terjadi di dalam cerita, salah satunya, Kepergian Laras yang diam-diam tanpa satupun kabar dan Rijal yang ternyata harus menikah dengan gadis pilihan Ibunya. Akankah Laras dan Rijal berakhir bahagia dengan cinta yang mereka pendam selama kuliah? 

     Ada sedikit typo juga di dalam cerita. Selebihnya aku baca oke. Ada di halaman 120 paragraf atas.
“Kak Tasya di handphone kak Tasya ada nomor ini?
Oh ini nomor Laras, Jal.
Kak Laras menunjukkan layar handphonenya ke arahku. Tertulis di sana : ‘laras baru’.
Harusnya kan Tasya bukan Laras.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar