Tertawan
Ada yang beku : bibir
Ada ada yang tertahan : nafas
Ada yang tak berkedip : kelopak mata
Ada yang berdesir deras : darah
Ada yang tertawan : hati
Ada yang berhenti berputar : bumi
Ada yang berhembus pelas : angin
Ada yang hening berbisik : rumput
Ada yang jatuh cinta padamu :
aku.
Judul Buku : Tuhan Maha Romantis
Penulis : Azhar Nurun Ala
Penyunting: Abdullah Ibnu Ahmad
Penerbit : Lampu Djalan
Tebal Buku : 251
Tebal Buku : 251
Cetakan ke tiga : 2015
Cuplikan awal dai bab 5 hal 63. Kisah ini tak pernah
membuatku bosan untuk membaca berulang kali. Sebab dari berulangnya membaca aku
akan menemukan hal baru lagi. Ada saja yang membuatku harus mengangguk setuju
dengan setiap percakapan dalam buku ini. Suka dengan nasihat Ayah Rijal. Kasih
sayang seorang Ibu. Dan buku ini mengajarkan sebuah keikhlasan. Meski sulit
namun ternyata berbuah manis
Cinta dalam diam. Mampu memberikan efek energi lebih kuat dibanding
cinta yang terlalu sering diungkapkan sebelum halal. Ini sih pemikiranku. Sebab
yakin dengan sebuah doa. Jika tak jodoh, tak ada luka yang terlalu dalam. Karena
memang belum berani untuk diungkapkan, lebih baik disimpan. Jika sudah waktunya
disegerakan. Kisah cinta antara Laras
dan Rijal memang sudah terjalin. Seperti sebuah benang panjang yang tak mereka
sadari. Rasa tertarik sudah terjadi diawal pertemuan. Bukan saling mengumbar
rasa, tapi menjaga hati. Ihhh kereennn.
Cerita ini alurnya Maju-mundur. Ada flashback masa lalu awal
pertemuan Laras dan Rijal. Lalu ada sebuah permintaan diawal kisah yang
menyambung ke bagian akhir. Sweet deh. Meski patah hati, Laras masih tetap
menepati permintaan iseng Rijal untuk mendoakan di bawah pohon kiwi. Doa apa
itu? baca bukunya saja :D
Cinta memang kata
kerja, bukan kata benda. Maka ia terus bergerak tak pernah berhenti. Ia ditakdirkan
menjadi kata yang begitu berkarakter, penuh daya dobrak tapi masih saja sulit
didefinisikan.
Sehingga begiti dasyat Anis Matta menggambarkannya dalam
Serial Cinta :
Seperti angin
membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di
tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantahkan
bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Hanya terasa.
Tapi dahsyat.
Allah punya jalan cinta untuk semua orang, yang sering kali
diabaikan. Hanya karena melihat jalan itu lebih landai tapi menjerumuskan.
Allah punya jalan cinta bagi mereka yang berpasrah. Percaya
bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi manusia. Tak ada jalan yang lebih
indah selain dariNya. Mendapatkan berkah dan tak membuat cinta itu membutakan
diri. Andai kita tak angkuh untuk menapakinya, bisa jadi cinta itu indah untuk
kita rengkuh dengan indahnya.
Ada hal yang membuat
kita hari ini berbeda dengan kita bertahun-tahun yang akan datang: buku yang kit
abaca dan orang-orang yang kita temui.
Buku yang kit abaca akan
membentuk pola pikir kita, orang orang terdekat kita akan membentuk karakter
kita.
Bacalah banyak buku,
temui dan tumbuhlah bersama orang-orang hebat___orang-orang yang melakukan
perubahan besar dan orang-orang yang kamu kagumi
Pesan Ayah untuk A’
Rijal.
Ya, memang buku dan orang disekitar kita yang akan membentuk
pribadi kita. Mau jadi baik dekati orang-orang baik. Mau berwawasan luas,
banyak-banyaklah membaca buku, dan yang memberikan manfaat bagi diri kita.
Permasalah yang terjadi di dalam cerita, salah satunya,
Kepergian Laras yang diam-diam tanpa satupun kabar dan Rijal yang ternyata
harus menikah dengan gadis pilihan Ibunya. Akankah Laras dan Rijal berakhir
bahagia dengan cinta yang mereka pendam selama kuliah?
Ada sedikit typo juga di dalam cerita. Selebihnya aku baca
oke. Ada di halaman 120 paragraf atas.
“Kak Tasya di handphone
kak Tasya ada nomor ini?
Oh ini nomor Laras, Jal.
Kak Laras
menunjukkan layar handphonenya ke
arahku. Tertulis di sana : ‘laras baru’.
Harusnya kan Tasya bukan Laras.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar