Label

Jumat, 03 Oktober 2014

I LOVE ALQUR'AN.

 Kemana kita waktu Allah memanggil
apa yang sudah kita berikan pada-Nya?
sudah banyak beryukurkah? atau malah lebih suka mengeluh?
padahal Allah sudah selalu memberi banyak kenikmatan. tapi kita sering kufur akan hal itu
yang butuh itu kita? atau Allah sih? kok seenaknya saja tanpa merasa bersalah mengambil segala nikmat yang diberikan tanpa ada rasa syukur sedikitpun!





Teringat nasihat dari Wirda. Rasanya seperti ditampar. Sakit sekali. Aku masih belum mencintai Al-qur'an sepenuh hati. Sungguh memalukan ketika lidah dan hati mengatakan aku mencintai agama islam, namun Alqur'an saja ditinggalkan. Membaca kadang-kadang. Itu juga ketika ingat dan saat membutuhkan. Katanya mencintai Allah tapi membaca kitabNya saja malas-malasan. ahh sungguh munafik sekali bukan?



Kalo seperti ini apa iya Allah akan mengabulkan permohonanku? aku saja selalu menduakan Dia. lebih mengutamakan kesibukan diri dan lebih mendahulukan kepentingan dunia daripada Allah. Aku jadi teringat nasihat pak Jamil kepada putrinya Nadira. Dia mengatakan,

"ingat nak kebiasaan keluarga kita, Allah dulu, Allah lagi dan Allah lagi."

Dan aku? sungguh jauh dari itu. Hingga akhirnya nasihat dari keluarga dan saudara kini mampu membuka sedikit hati. Yah... sedikit, tapi itu sudah menjadi awal baik untukku. Adik mampu membuat diri ini tersadarkan ketika kata-katanya menusuk hati,

"ngobrol lama-lama kok tidak ada manfaatnya".

Perkataan ini sangat jelas terekam dalam benak ingatanku dan hati hingga kini. aku terlalu membuang waktuku untuk hal yang tidak bermanfaat. Rasa iri pun hadir kepadanya, ketika dia dapat liburan pulang kerumah, setiap hari terdengar dari kamarnya, dia mampu menghafal ayat-ayat cinta dariNya. sedangkan aku? hah! hafalan saja hanya mampu surah pendek. Malu rasanya. seorang kakak bukannya menunjukkan kebaikan pada adik malah berbalik arah. Dia saja mengutamakan Allah daripada kesenangan dunia. Apa iya aku harus mengutamakan dunia? aneh bukan. Padahal hidup cuma sementara. sia-sia sekali jika nafas gratis dari-Nya hanya digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat sedikitpun!

Ayah yang semangat sekali belajar membaca Alqur'an membuat aku ingin lebih baik darinya. Beliau sudah tua tapi semangat untuk belajar mencintai ayat-ayat cinta dari-Nya sungguh kuat sekali. Yang tadinya tidak bisa membaca kini mampu membaca. Berusaha untuk lebih mengingat dimana panjang pendeknya ketika membaca. Semoga Allah memaafkan beliau jika tajwidnya masih belum sempurna. Ini mampu menjadi penyemangat bagiku ketika aku ingin belajar namun selalu menunda dengan segudangalasan.

"Hei... ingat Ayah seharusnya jadi semangat, kenapa aku yang masih muda dan diberi ingatan yang masih baik tidak ingin belajar memperbaiki?".

Dengan segala pengertian dari Ibu dan Kakak yang memberi aku waktu belajar. Seharusnya aku memanfaatkan dengan sangat baik bukan? tapi ternyata semua masih hanya angan, belum maksimal.

Tahun ini lebaran, tahun penuh dengan berkah . Alhamdulillah semoga menjadi awal jalan untuk menjadi lebih baik. Allah sudah selalu membuktikan kepada diri ini dengan segala kasih sayang yang tiada batasnya. Memberi keluarga yang tidak hanya memikirkan dunia saja, dan mendekatkan aku pada sahabat serta teman yang mencintai-Nya. Benar-benar sangat menyejukkan hati. Karena kehadiran mereka mampu menyadarkan  betapa "amazingnya" hidup ini untuk tidak aku sia-siakan.

Sahabat yang saling mengingatkan satu sama lain meski jarak jauh membentang, namun hati yang dipenuhi cinta dari-Nya mampu menyatukan untuk menjadi insan yang lebih baik. Bertambah pula dengan teman baru di era WA yang sudah merebak. Kalian pasti tahu apa itu ODOJ? emmm, apa masih ada yang belum tau hingga saat ini apa itu odoj? duhh... padahal ini sudah ada tidak hanya di indonesia tapi luar negeri pun sudah ada. Odoj itu "one day one juz". Menurutku ini program yang sangat bagus. meningkatkan kita untuk lebih mencintai Alqur'an. Menyatukan persaudaraan dari berbagai belahan kota di indonesia. Odoj mampu membuat seorang pribadi yang tadinya mengaji cuma satu halaman kini menjadi satu juz. Bayangkan dong bagi yang belum terbiasa pasti terasa berat sekali. Tapi itu hanya ada diawal saja. yang tadinya berat menjadi kebiasaan, dan berakhir sebuah keharusan. Namanya juga berusaha mendekatkan diripada Allah itu pertama harus dipaksa. Kalo tidak pernah dicoba tidak akan pernah tahu hasilnya. Nanti juga akan menjadi sebuah kebutuhan. Membaca Alqur'an jangan hanya karena odoj ya jika sudah terbiasa, tapi jadikan dia kebutuhan dalam hidup. Sebab mampu menyirami taman hati yang tadinya gersang kini menjadi sejuk karena ayat-ayat cinta-Nya masuk kedalam qolbu.

Mengikuti program odoj, sesibuk-sibuknya kita mampu memacu untuk tetap membaca satu juz. Saat hati mau senang, sedih, dan galau tingkat kabupaten :D juga tetap harus membaca satu juz. ehhh... nanti hati yang gundah pasti jadi tenang karena membaca Alqur'an. Yang tadinya sekedar membaca, lama-lama akan tersadarkan bahwa tajwid belum benar, dan pastinya akan berusaha memperbaiki. Odoj itu dimana pun akhirnya akan membuat kita ingat Allah.

to be continued...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar